Dalam mengerjakan kampanye SEO, kita pasti sering mendengar istilah TLD. Bahkan saat hendak membuat website, kita akan mempertimbangkan nama domain agar mempermudah proses Marketing.

Apa Itu TLD ?

TLD adalah akronim (singkatan) dari Top Level Domain, sebuah sistem hirarki dalam struktur alamat sebuah website. Biasanya TLD berada dibagian akhir sebuah struktur URL domain/domain sufix, seperti ini:

Struktur URL untuk menjelaskan posisi TLD dalam domain

Keterangan:

  1. Protocol – http sendiri berarti Hypertext Transfer Protokol, sebuah metode untuk mengambil informasi antara client (misal web browser) dan server (misal web server). Adanya tambahan “s” pada https adalah untuk menjelaskan bahwa koneksi yang dibuat sudah melalui tahap enkripsi (perlindungan) yang aman. Sehingga situs tersebut bisa menyimpan informasi kita dengan baik.
  2. Sub – subdomain, yang bisa dimanfaatkan untuk memberikan multi-informasi. Kita bisa memanfaatkan subdomain untuk pembuatan micro-site, akses mobila apps, email, atau kebutuhan lainnya.
  3. Second Level Domain – nama domain unik yang dijadikan mask pengganti IP, agar orang/user mudah mengingat alamat sebuah website.
  4. TLD – Top Level Domain
  5. Sub Folder/Slug – Sebuah lokasi tempat meletakan informasi, ibarat folder dalam sebuah komputer, biasanya dalam folder ini berisi media, atau alamat tertentu.
  6. Article Link/permalink – Nama unik untuk identifikasi konten dalam sebuah situs.
  7. Filename – Pengenal jenis file dari konten yang sedang diakses. Bisa berupa Hypertext Markup Language (HTML), Java Script (JS), Cascading Style Sheet (CSS), dan sebagainya.

Nama domain yang memiliki second dan top-level domain disebut dengan Fully Qualified Domain Name (FQDN).

Kita akan mengenal berbagai jenis TLD seperti .com, .net, .org, dan sebagainya. Namun kita tidak bisa sembarangan membuatnya, tanpa persetujuan dari lembaga yang mengakomodir semua penamaan tersebut. Lembaga ini dikenal sebagai The ICANN (Internet Corporation for Assigned Name and Numbers).

ICANN bertugas mengawasi semua jenis top-level domain, agar dipergunakan sebagaimana mestinya. Misal, jika website tersebut bertujuan untuk komersil, maka website tersebut bisa menggunakan top-level domain berupa .com (commercial).

ICANN memiliki panduan dalam pengurusan domain ini, dengan mengelompokkan TLD ke dalam empat kategori berdasarkan tujuan, pemilik dan lokasi geografis website. Empat kategori utama tersebut adalah :

1. Generic Top-Level Domain (gTLD)

Generic Top Level Domain

Sesuai namanya, Generic Tol-Level Domain adalah TLD yang bisa dipakai oleh siapa saja tanpa ada persyaratan khusus. Domain ini secara umum memang bisa bertujuan berbeda dari penggunaan namanya, misalnya:

  • .com ( Commercial ) – Untuk keperluan komersial, tapi tidak menutup kemungkinan organisasi menggunakan domain ini, atau sebuah situs sekolah menggunakannya.
  • .xyz ( Generic ) – Penggunaanya sama seperti .com, dimana siapapun, baik individual, corporate, bisa menggunakan domain tersebut.
  • .net ( Networking ) – Dulu domain networking digunakan oleh perusahaan penyedia jaringan dan internet service provider, namun kini semua juga bisa menggunakannya secara umum.
  • .biz ( Business ) – Domain ini diperuntukan bagi mereka pemilik bisnis. Namun akhir-akhir ini sangat jarang ditemukan pemilik bisnis menggunakan domain tersebut, dan lebih memilih menggunakan .com.
  • .info ( Information ) – Domain ini diperuntukan bagi mereka penyedia informasi.

2. Sponsored Top-Level Domain (sTLD)

Berbeda dengan gTLD, Sponsored Top-Level Domain adalah Domain yang perlu perizinan khusus dari ICANN dan/atau lembaga pengelola domain lokal, seperti PANDI.

Domain-domain dalam kategori sTLD ini memiliki keunikan, karena memang perlu pengawasan untuk tetap menjaga aliran informasi didalamnya agar tetap relevan bagi penggunanya.

Dalam sTLD, yang masuk dalam kelompok ini adalah:

  • .gov ( Government ) – Untuk keperluan situs pemerintahan, domain ini sering ditemukan bagi website pemerintahan Amerika. Di Indonesia sendiri menggunakan domain .go.id sesuai peraturan PANDI.
  • .edu ( Education ) – Sesuai namanya, domain ini diperuntukan bagi situs pendidikan, sekolah, atau institusi yang berkaitan dengan dunia edukasi. Website di Indonesia sering ditemukan memiliki domain .sch.id ( School ), .ac.id ( Academic ), dan lain sebagainya.
  • .mil ( Millitary ) – TLD ini diperuntukan bagi lembaga militer yang ingin membuat website. Terutama untuk Militer US yang banyak memiliki kegiatan. Di Indonesia sendiri, situs militer menggunakan domain .mil.id.

3. Country Code Top-Level Domain (ccTLD)

Country Code Top-Level Domain

Untuk tujuan tertentu, ICANN juga menambahkan domain-domain yang diperuntukan bagi negara-negara untuk memiliki TLD, dengan memenuhi International Standart Operations (ISO).

Kode ini yang nantinya akan membedakan satu negara, agar mempermudah penduduk lokal dalam mendapatkan informasi yang relevant via hasil pencarian lokal. Yang masuk dalam ccTLD contohnya antara lain:

  • .id – Indonesia
  • .tv – Tuvalu
  • .es – Spanyol
  • .ru – Rusia
  • .jp – Jepang
  • .kr – Korea

Apa Peranan TLD dalam proses SEO?

Domain adalah salah satu hal yang diidentifikasi oleh crawlbot sebagai sebuah Ranking Factor. Mengingat sebuah domain sangat unik, maka penamaan domain pun sebisa mungkin memenuhi kaidah SEO agar bisa menangkap intensitas dari salah satu Rank Factornya.

Berdasar pengalaman, gTLD memiliki potensi lebih tinggi secara scoring rank factor, ketimbang domain lainnya. Namun hal tersebut bisa berbanding terbalik untuk konten yang secara Expertise-Authoritive-Trust lebih berkualitas.