Dropship (Dropshipper) adalah sebuah model bisnis dimana penjual tidak perlu menyimpan stok, namun mereka masih tetap bisa menerima order dan melakukan pengiriman barang yang dipesan oleh customer.

Model ini mulai kembali marak di gaungkan, terutama oleh anak-anak muda, karena bisnis ini cenderung lebih mudah dilakukan oleh mereka, tanpa harus menghawatirkan tempat untuk menyimpan stok barang, ditambah dengan penggunakan aplikasi sosial media yang memang cenderung mayoritas penggunanya adalah Generasi Millenial dan Generasi Z (GenZ).

Mengenal Strategi Dropship beserta kelebihan dan kekurangan

Sebenarnya dropship sudah lama, bagi Saya pribadi, pertama kali mendengar istilah ini pada tahun 2012. Dimana pada masa itu, para dropshipper akan meramaikan amazon, ebay, dan marketplace di US, dengan barang-barang unik dan berharga murah.

Dropshipper memanfaatkan strategi Oportunity and Demand, atau peluang dan kebutuhan. Karena kebanyakan barang-barang yang paling mudah dijual/laris merupakan barang-barang yang saat itu paling dibutuhkan oleh pembelinya.

Baca Spesial Cara Sukses Jualan Online di Instagram untuk Semua Jenis Usaha

Sebagai contoh, saat harga sebuah kasur yang bisa berubah fungsi menjadi kursi dijual di ebay dengan harga $150-200 (setara 1,5 Juta hingga 2 juta rupiah pada tahun 2012) , orang-orang akan memburu barang serupa dari Alibaba/aliexpress, dengan harga barang sekitar $60-70 (setara 600 ribu hingga 700 ribu rupiah pada tahun tersebut) dan menjualnya kembali di ebay dengan harga $100. Semua bisa dilakukan tanpa harus menyimpan stok barangnya terlebih dahulu. Anda bisa langsung membeli dari Alibaba/Aliexpress, dan mengirimkannya atas nama toko online Anda di ebay, dengan profit hingga $40 (setara 400 ribu) per produk.

Diluar kelebihan tersebut, tentu ada kendala atau kekurangan menjadi dropshipper, yaitu jika salah memilih toko untuk bekerja sama, kadang kualitas barang tidak bisa kita pertanggung jawabkan kepada customer. Kadang juga, kita tidak beruntung jika barang yang menjadi favorit tidak akan di produksi kembali (discontinue) karena alasan-alasan yang tidak bisa kita kendalikan.

Dropshipper di Indonesia, dengan sentuhan Digital Marketing

Seperti yang telah saya sebutkan di atas, bahwa kini dropshipper kembali ramai di galakan oleh orang-orang, mengingat mulai tingginya persaingan marketplace, kita bisa sebutkan seperti Tokopedia, Shoppee, Bukalapak, dan marketplace besar lainnya yang memungkinkan para seller membuka peluang dropshipper.

Cara yang di gunakan oleh para dropshipper di Indonesia justru cenderung lebih unik, karena semua pendekatan dilakukan secara social, atau setidaknya menggunakan bantuan social media.

Sebuah media yang sangat mudah menjangkau audience, karena terbukti beberapa seller besar yang saya kenal bermula dari akun instagram mereka, atau setidaknya akun instagram ownernya, yang kemudian beranjak menjadi sebuah brand.

Cara yang digunakan tentu semuanya hampir berpola, membuat instagram feed yang aestetik, feed di sulap menjadi katalog produk, dengan deskripsi yang menarik, dan berujung Call To Action ke nomor WhatsApp atau “cek link di bio ya, kak”.

Atau jika sang pemilik akun mengelola penjualan dengan baik, tidak menutup kemungkinan katalog produk tersebut akan di boost dengan bantuan Social Media Ads, berharap untuk mendapatkan lebih banyak awareness dan visibilitas brand.

Tips Hemat Saya untuk kalian yang hendak memulai bisnis melalui strategi dropship

Kita sampai pada bagian akhir dari tulisan ini, dan saya harap tulisan ini lebih menginspirasi kalian untuk mulai beraksi, alih-alih hanya menjadi retrospeksi. Bagi kalian yang ingin memulai bisnis melalui strategi dropship, coba pertimbangkan beberapa hal di bawah ini:

  1. Mulai dengan memilih toko rekanan dropship yang bisa kalian lihat langsung kualitas produknya. Mungkin kalian butuh memesan satu atau dua produk terlebih dahulu, untuk menguji kualitas barangnya.
  2. Jika tidak memungkinkan untuk memesan produk, kalian bisa mulai dengan memeriksa review yang ada. Review tidak akan mengingkari kualitas, setidaknya itu yang saya percaya.
  3. mulai kumpulkan setidaknya 3 toko rekanan dengan produk yang sejenis/serupa. Langkah ini setidaknya menjamin kalian memiliki plan A, Plan B, dan Plan C untuk hal-hal yang tidak terduga.
  4. Mulai bangun personal branding dari brand toko online Anda di Instagram, dan buatlah post yang konsisten berdasar tahapan funneling yang baik. Jika kalian tidak tahu tahapan funneling, saya sudah membuat dalam tulisan yang terpisah pada halaman website saya di chefrimba.com.
  5. Jika memungkinkan, alokasikan budget Anda untuk beriklan, tidak perlu banyak, minimal 20 ribu – 50 ribu rupiah sehari, untuk menjangkau audiene secara optimal.
  6. Kuatkan Marketing Mix pada process, terutama process after sales.

Sekian, jika ada hal yang ingin di diskusikan, kalian bisa menghubungi saya melalui akun social media chef.rimba.

Radius Arianto

Tentang Author

Radius Arianto adalah Konsultan Lepas untuk Growth di TurnBacklink.com sekaligus Digital Marketing Lead di salah satu perusahaan penyedia sewa ruang kantor, GoWork. Dengan pengalaman lebih dari 7 tahun membantu banyak brand berkembang dengan strategi Organik Acquisition. Secara aktif beliau membagikan insight tentang SEO melalui berbagai seminar dan pelatihan di lembaga kursus. Untuk terhubung, Anda bisa menghubungi melalui surel, dan akun berikut ini