Biar Tidak Dibayar Murah: Begini Cara Menentukan Rate Card Sebagai KOL Pemula

  • Updated
  • Posted in Social Media
  • 3 mins read

Punya pengaruh di Social Media dan kepikiran buat jadi KOL atau influencer ? Nah saat kamu hendak menawarkan jasa mu kepada para brand, biasanya akan ditanyakan satu hal, yaitu Rate Card.

Sekadar info buat yang belum tahu, Rate card adalah daftar harga resmi atas jasa yang kamu tawarkan sebagai KOL, influencer, affiliate, atau live streamer.

Rate card ini digunakan oleh brand untuk mengetahui berapa biaya yang harus mereka keluarkan untuk menggunakan jasa kamu berkaitan dengan strategi digital marketing mereka. Terkait Isi, bisa berupa harga per konten, per live session, per paket campaign, atau per durasi kerja sama.

Perhatikan Hal Ini Saat Tentukan Harga Jasa

Agar tidak terlalu murah atau mahal, ada beberapa hal yang sebaiknya kamu perhatikan saat menyusun rate card, seperti :

1. Jangan terlalu fokus ke Jumlah Follower

Jumlah follower sedikit bukan berarti kamu bisa jual semurah mungkin, begitupun sebaliknya. Followers memang menjadi salah satu faktor, tapi bukan satu-satunya.

Yang brand atau seorang strategis lihat itu biasanya engagement rate, niche, dan trust audiens. 1.000 followers dengan interaksi tinggi sering lebih bernilai daripada 100.000 followers pasif.

2. Hitung Effort dan Positioning

Harga sebuah jasa bisa mahal karena ada pengalaman, dan pengalaman ini berhubungan dengan hasil riset, best practice, atau hal-hal yang bersifat experimental serta positioning.

Sebaiknya kamu hitung seberapa effort yang kamu butuhkan untuk menciptakan konten tersebut. Misal untuk menciptakan satu buah video durasi 30 menit bersifat edukasi, kamu perlu membeli property A, maka biaya tersebut harus termasuk dalam ratecardmu.

3. Penggunaan Konten

Tidak jarang kontenmu itu dimanfaatkan untuk berbagai macam aktivitas marketing, seperti periklanan di kanal digital, atau kebutuhan marketing cetak. Maka kamu bisa menambahkan biaya untuk pengambil alihan kekayaan intelektual atau kreatif oleh brand.

Namun jujur, untuk point ini mungkin kamu perlu benar-benar memiliki uniqueness dan sudah memahami tentang hak kekayaan intelektual terkait konten.

Contoh Penentuan Harga Rate Card

Oke untuk pemula, jika ingin mulai menentukan rate card, kamu bisa mulai dari pendekatan sederhana, yaitu tentukan base line utama. Dari base line ini, kamu bisa kembangkan atau sesuaikan dengan kebutuhan khusus.

Rate dasar = (Rata-rata views × nilai per 1.000 views) + biaya produksi

Sebagai contoh, jika rata-rata views konten kamu adalah 20.000 dan kamu memiliki nilai Rp50.000 per 1.000 views, maka:

20 × 50.000 = Rp1.000.000, Tambahkan biaya produksi, misalnya Rp300.000

Maka total baselinenya adalah : Rp1.300.000

Ini bukan harga mati, tapi titik awal negosiasi jika brand/calon client perlu adjustment.

Strategi agar Rate Card tidak Kemurahan/Kemahalan

Banyak kompetisi menjadikan content creator harus menyesuaikan harga rate card agar tetap bisa bekerja sama dengan brand. Bukan berarti kamu harus pasang harga paling murah atau mahal, kuncinya itu terletak di Relevansi, seberapa relevan jasa kamu dengan kebutuhan bisnis.

Nah ini ada beberapa strategi yang disampaikan oleh para Kadet di Ruang Henti Digital terkait bagaimana menjaga Rate Card agar tetap kompetitif:

1. Tahu Waktu yang Tepat Untuk Menaikan Harga

Kamu juga pasti tidak mau tetap menawarkan jasa dengan harga yang sama, sebisa mungkin meningkatkannya, tapi kapan harus menaikkan harga?

Naikkan rate card ketika:

  • Engagement stabil atau meningkat
  • Permintaan job mulai sering
  • Kamu sudah punya portofolio brand
  • Kenaikan bertahap lebih sehat daripada lonjakan drastis.

2. Tahu Cara Negosiasi Agar Tidak Terlihat “Murahan”

Kami paham bahwa kamu butuh mendapatkan pemasukan, tapi menurunkan harga bukan solusi agar kamu bisa dapat client dengan cepat. Alih-alih langsung menurunkan harga, tawarkan penyesuaian deliverables. Misalnya, kurangi durasi, atau ubah format konten.

Negosiasi cerdas menjaga harga layanan kamu dan pekerjaan kamu tetap profesional, sekaligus menjaga relasi dengan client-client yang sudah pernah pakai jasamu.