Ketika Semua Bisa Bikin Konten Pakai AI, Lantas Bagaimana Brand Tetap Bisa Unggul di AI Overivew?

  • Updated
  • Posted in Editorial
  • 14 mins read

Ada satu pertanyaan yang belakangan ini semakin menarik perhatian saya sebagai pengamat dan praktisi SEO, yaitu : ketika siapa pun bisa membuat ratusan artikel menggunakan AI, apa yang membuat sebuah brand tetap layak mendapatkan perhatian di halaman hasil pencarian Google?

Pertanyaan ini terdengar sederhana. Namun, jika kita melihat perkembangan industri SEO saat ini, jawabannya tidak sesederhana hanya memilih tools riset SEO terbaik, langganan AI terbaik, menyusun prompt yang lebih panjang/spesifik, atau menerbitkan konten sebanyak-banyaknya.

AI telah mengubah cara kita melakukan riset, menyusun strategi, hingga memproduksi konten. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam kini bisa diselesaikan dalam hitungan menit. Dari sisi efisiensi, ini tentu menjadi perkembangan yang menarik. Namun, ketika teknologi yang sama dapat diakses oleh hampir semua orang, keunggulan kompetitif justru menjadi semakin sulit dipertahankan.

Untuk memperoleh wawasan terkait hal tersebut, saya mengajak para praktisi digital marketing untuk berdiskusi pada event yang telah dilaksanakan kemarin untuk membahas :

Para praktisi yang saya ajak diskusi antara lain :

  • Calvin Teja — Founder Omnirank.id
  • Jeffry Thurana — Digital Marketing PT. Inti Kalachakra Nusantara
  • Nur Anasta Rahmat — CPO Takooni.com
  • Faris Yudza Gifari — Digital Marketing Primacare Clinic
  • Viktor Iwan Krisnanda — Founder Doxadigital.com
  • Habibah Auni dan Andira Putra — Selangkah Digital Agency

Kami membahas bagaimana AI memengaruhi brand dalam menciptakan konten, menyusun strategi SEO berbasis AI, dan cara brand mempertahankan visibilitasnya di tengah perubahan lanskap pencarian. Dari diskusi tersebut, saya mendapatkan satu perspektif penting:

Di tengah semakin mudahnya produksi konten menggunakan AI, tantangan terbesar brand bukan lagi sekadar bagaimana membuat konten, melainkan bagaimana membuat konten yang benar-benar memiliki nilai.

Ketika Produksi Konten Menjadi Semakin Mudah, Persaingan Justru Semakin Kompleks

Jika kita mengamati perkembangan SEO beberapa tahun terakhir, ada perubahan besar dalam cara konten diproduksi.

Dahulu, membuat artikel dalam jumlah besar membutuhkan tim penulis, editor, peneliti, dan proses editorial yang cukup panjang. Sekarang, AI dapat membantu mempercepat hampir setiap tahapan tersebut.

Masalahnya, kemudahan produksi tidak selalu berbanding lurus dengan kualitas.

Saya melihat ini sebagai salah satu tantangan terbesar dalam strategi konten modern. Ketika semakin banyak website bisa menerbitkan konten artikel dengan bantuan AI, bagaimana Search Engine dan User/pengguna bisa membedakan mana konten yang benar-benar layak diperhatikan ?

Dalam diskusi RHD tadi malam, persoalan ini muncul ketika Google memberikan pemberitahuan terkait Update Algoritma Spam yang berlangsung pada tanggal 18 Agustus 2026 dan 24 September 2026. Dimana Saya memperhatikan ada penurunan Impresi dan Klik dari website-website yang membahas satu topik serupa.

Dari temuan tersebut, saya membuka pertanyaan kepada para rekan diskusi “Bagaimana performance website masing-masing, apakah turun atau stabil” dan semua menyatakan bahwa fluktuasi adalah hal lumrah, namun tidak sampai menemukan kondisi seperti yang saya sebutkan diatas.

Diskusi dilanjutkan dengan pertanyaan ke 2, bagaimana kita menilai sebuah konten itu berkualiitas? Mengingat tema utama diskusinya adalah “Peran AI dalam membantu brand membuat konten”. Para panelis sepakat bahwa SEO bukan sekadar perlombaan untuk menerbitkan konten sebanyak-banyaknya. Konten harus memiliki tujuan yang jelas, menjawab kebutuhan audiens, dan memberikan sesuatu yang tidak sekadar mengulang informasi yang sudah tersedia di banyak tempat.

Ketika produksi konten semakin mudah, kemampuan untuk menentukan apa yang perlu dibuat, mengapa konten tersebut penting, dan nilai apa yang ditawarkannya menjadi semakin krusial.

AI Overviews Mengubah Cara Kita Memikirkan Visibilitas di Google

Tantangan SEO juga tidak berhenti pada meningkatnya jumlah konten yang diproduksi menggunakan AI. Perubahan pada halaman hasil pencarian, termasuk kehadiran Google AI Overviews, membuat pembahasan mengenai visibilitas organik semakin menarik dan brand perlu memahami hal tersebut secara seksama.

Pengguna kini dapat menemukan ringkasan jawaban yang dihasilkan AI langsung di halaman pencarian untuk kueri tertentu. Kondisi ini mendorong kita untuk memikirkan kembali bagaimana sebuah brand bisa ditemukan, dipercaya, dan dipertimbangkan oleh calon pelanggan.

Bagi saya, perubahan ini mengingatkan bahwa strategi SEO tidak seharusnya hanya berpusat pada posisi sebuah halaman untuk “exact query”. Visbility tetap penting, tetapi ada pertanyaan lain yang juga perlu dijawab:

  • Apakah konten kita benar-benar membantu pengguna?
  • Apakah brand kita memiliki keahlian yang relevan?
  • Apakah informasi yang kita berikan cukup jelas, kredibel, dan berguna untuk dijadikan referensi?

Diskusi semalam juga menyinggung risiko konten AI berkualitas rendah serta pentingnya memahami bagaimana kualitas dan manfaat konten berhubungan dengan kebutuhan audiens.

Saya rasa, inilah arah berpikir yang perlu diperkuat oleh praktisi SEO. Alih-alih hanya mencari cara agar konten lebih mudah ditemukan, kita juga perlu membangun alasan mengapa brand kita pantas mendapatkan perhatian.

Sebab, pada akhirnya, visibilitas yang bernilai bukan hanya tentang siapa yang muncul di hasil pencarian, tetapi juga tentang siapa yang mampu membangun kepercayaan.

Untuk Brand di Industri Your Money Your Life, AI Tidak Bisa Menggantikan Validasi Ahli/Expert

Salah satu bagian diskusi yang menurut saya sangat relevan adalah pembahasan mengenai penerapan AI dalam produksi konten di niche yang bersinggungan dengan Your Money Your Life, contohnya kesehatan.

Industri kesehatan memiliki tantangan yang berbeda dibandingkan sejumlah kategori konten lainnya. Informasi yang keliru bukan hanya berpotensi menurunkan kualitas artikel, tetapi juga dapat menyebabkan pembaca salah memahami kondisi atau tindakan medis tertentu.

AI memang dapat membantu menyusun draf, merangkum informasi, dan mempercepat pekerjaan editorial. Namun, bagaimana jika AI menghasilkan informasi medis yang kurang tepat? Bagaimana jika sebuah penjelasan terdengar meyakinkan, tetapi tidak memiliki dasar yang cukup kuat?

Di sinilah validasi manusia menjadi sangat penting.

Konten kesehatan membutuhkan pemeriksaan fakta, sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, serta keterlibatan tenaga profesional ketika topiknya memerlukan keahlian medis. Tantangannya, proses tersebut tidak selalu mudah dilakukan karena keterbatasan waktu dan kesediaan tenaga ahli untuk terlibat dalam aktivitas pemasaran.

Bagi saya, diskusi ini menunjukkan bahwa penggunaan AI tidak bisa dilepaskan dari konteks industri.

Strategi yang mungkin efektif untuk konten dengan risiko rendah belum tentu dapat diterapkan begitu saja pada konten kesehatan, keuangan, atau topik lain yang membutuhkan tingkat akurasi tinggi. Semakin besar konsekuensi dari informasi yang salah, semakin kuat pula kebutuhan akan pengawasan dan validasi oleh pihak yang kompeten.

Artinya, efisiensi tetap penting, tetapi tidak boleh mengorbankan tanggung jawab terhadap pembaca.

Brand Tidak Bisa Hanya Mengandalkan Konten Generik

Jika hampir semua brand dapat menggunakan AI untuk memproduksi artikel, apa yang membuat konten sebuah brand berbeda?

Bagi saya, jawabannya berkaitan erat dengan identitas, pengalaman, dan keahlian yang dimiliki brand tersebut.

Pada saat diskusi, Viktor Iwan membahas pentingnya menentukan unique selling proposition atau USP serta membangun otoritas melalui konten yang berfokus pada kekuatan spesifik sebuah bisnis. Mbah Anas juga menekankan perlunya menyeimbangkan konten yang spesifik dengan upaya membangun branding melalui berbagai platform.

Sementara itu, Calvin menyoroti pentingnya pengalaman nyata, biografi ahli, dan profil profesional untuk memberikan nilai lebih pada konten.

Saya melihat ketiga perspektif tersebut saling melengkapi.

Bayangkan ada dua klinik yang sama-sama menerbitkan artikel tentang layanan kesehatan tertentu. Keduanya menggunakan AI untuk membantu proses penulisan dan memiliki struktur artikel yang sama-sama rapi.

Namun, klinik pertama hanya menerbitkan penjelasan umum yang dapat ditemukan di berbagai website. Klinik kedua melengkapi kontennya dengan informasi mengenai keahlian tenaga medis, pendekatan pelayanan, pengalaman profesional yang relevan, serta penjelasan yang benar-benar membantu calon pasien memahami layanan yang tersedia.

Perbedaannya bukan sekadar gaya bahasa. Ada identitas dan konteks nyata yang membuat konten klinik kedua lebih spesifik terhadap bisnisnya.

Contoh ini juga bisa sangat relevan bagi industri lain.

Sebuah perusahaan dapat menggunakan AI untuk menjelaskan produknya, tetapi pemahaman terhadap masalah pelanggan, pengalaman menangani kasus tertentu, perspektif tim, dan bukti nyata dari pelaksanaan layanan merupakan bahan yang perlu digali dari bisnis itu sendiri.

AI dapat membantu mengolah informasi tersebut. Namun, brand tetap perlu menyediakan substansi yang menjadi dasar kontennya.

Karena itu, menurut saya, salah satu investasi konten paling penting bagi brand adalah mengubah keahlian dan pengalaman yang mereka miliki menjadi informasi yang benar-benar berguna bagi audiens.

Kualitas Konten Bukan Hanya Soal Tulisan yang Enak Dibaca

Pembahasan berikutnya yang menarik perhatian saya adalah bagaimana kita mendefinisikan dan mengevaluasi kualitas konten.

Selama ini, penilaian kualitas sering kali terlalu berfokus pada aspek yang mudah dilihat: tata bahasa, struktur heading, panjang artikel, penggunaan kata kunci, dan keterbacaan.

Semua itu memang penting. Namun, kualitas konten tidak berhenti di sana.

Habibah Auni membagikan perspektif tentang teknik penulisan dan pentingnya menghindari redundansi. Salah satu contoh yang dibahas adalah audit terhadap 1.500 artikel, yang menemukan banyak pembahasan berulang.

Temuan seperti ini mengingatkan saya pada persoalan yang kerap muncul ketika produksi konten dilakukan secara masif: sebuah website bisa memiliki banyak artikel, tetapi tidak semuanya memberikan kontribusi yang berbeda.

Beberapa artikel mungkin membahas topik serupa dengan sudut pandang yang hampir sama. Artikel lainnya mungkin hanya memperpanjang penjelasan tanpa memberikan informasi tambahan yang berarti.

Akibatnya, jumlah konten bertambah, tetapi nilai keseluruhan yang diberikan kepada audiens belum tentu meningkat.

Audit Konten Merupakan Bagian Tidak Terpisah dari SEO

Kita perlu mengevaluasi apakah setiap artikel masih relevan, apakah ada pembahasan yang berulang, apakah informasi yang disampaikan akurat, dan apakah konten tersebut benar-benar membantu pembaca mencapai tujuannya.

AI dapat membantu proses identifikasi dan pengelompokan konten serupa. Namun, keputusan untuk memperbarui, menggabungkan, atau menghapus artikel tetap perlu mempertimbangkan konteks, performa, tujuan bisnis, dan kebutuhan pengguna.

Bagi saya, kualitas bukan sekadar kemampuan menghasilkan tulisan yang terlihat profesional. Kualitas juga berkaitan dengan kemampuan sebuah konten untuk memberikan jawaban yang tepat, dalam konteks yang tepat, tanpa membuat pembaca harus melewati informasi yang tidak diperlukan.

Workflow yang Lebih Sehat: Riset Dahulu, AI Kemudian

Salah satu insight praktis yang saya dapatkan dari diskusi ini adalah pentingnya membalik urutan kerja dalam produksi konten berbantuan AI. Alih-alih langsung meminta AI menulis artikel berdasarkan satu kata kunci, proses sebaiknya dimulai dengan riset.

Mbah Anas menyarankan pendekatan yang menempatkan penelitian di awal, kemudian menggunakan AI untuk membantu penulisan. Jeffry juga menekankan pentingnya panduan editorial dan content brief untuk menjaga konsistensi serta meminimalkan kesalahan.

Menurut saya, pendekatan ini masuk akal karena AI hanya dapat bekerja sebaik informasi, instruksi, dan konteks yang diberikan kepadanya.

Jika kita tidak memahami search intent, karakteristik audiens, fakta pendukung, atau sudut pandang yang ingin disampaikan, AI berisiko menghasilkan artikel yang terlihat lengkap tetapi sebenarnya flop.

Untuk menghindari hal tersebut, saya melihat ada lima tahapan yang bisa diterapkan dalam workflow konten.

  1. Pertama, lakukan riset. Pahami kebutuhan audiens, pertanyaan yang ingin mereka jawab, informasi yang sudah tersedia, serta fakta yang harus diverifikasi.
  2. Kedua, susun content brief. Tentukan tujuan konten, target pembaca, pesan utama, sudut pandang, struktur pembahasan, dan sumber yang perlu digunakan.
  3. Ketiga, gunakan AI untuk membantu produksi. AI dapat membantu mengembangkan kerangka, menyusun draf, merapikan bahasa, atau mengeksplorasi alternatif penyajian informasi.
  4. Keempat, lakukan penyuntingan dan validasi manusia. Periksa akurasi, relevansi, pengulangan, konsistensi merek, serta klaim yang membutuhkan dukungan sumber atau penilaian ahli.
  5. Kelima, evaluasi hasilnya. Setelah dipublikasikan, pantau apakah konten memenuhi kebutuhan audiens dan mendukung tujuan SEO maupun bisnis.

Workflow ini juga perlu disesuaikan dengan tingkat risiko topik. Artikel kesehatan, misalnya, membutuhkan lapisan validasi yang lebih ketat dibandingkan konten yang tidak memiliki konsekuensi serupa.

Bagi saya, pendekatan ini menempatkan AI pada peran yang tepat: sebagai alat untuk memperkuat proses kerja, bukan sebagai pengganti riset, penilaian, dan tanggung jawab editorial.

Ketika Semua Orang Memiliki AI, Keahlian Manusia Justru Semakin Berharga

Dalam diskusi, para peserta juga berbagi pengalaman menggunakan berbagai tools, termasuk Claude, Gemini, dan sistem berbasis agen atau agentic systems.

Viktor Iwan menjelaskan bagaimana timnya menggunakan perencanaan dan alur kerja untuk mengarahkan model bahasa besar yang berbeda sesuai kebutuhan proyek.

Hal ini menarik karena menunjukkan bahwa pemanfaatan AI tidak selalu berarti menggunakan satu tools untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan. Dalam praktiknya, tim dapat memilih model berdasarkan kebutuhan, mengatur tahapan kerja, dan menggabungkan berbagai kemampuan untuk menghasilkan proses yang lebih efisien.

Namun, saya menangkap satu hal yang lebih mendasar dari pembahasan tersebut: banyaknya tools tidak otomatis menjamin kualitas hasil.

Kita dapat menggunakan model terbaru, menyusun prompt yang kompleks, atau mengotomatiskan sejumlah tahapan produksi. Akan tetapi, tanpa pemahaman terhadap topik dan standar kualitas yang jelas, hasilnya tetap berisiko meleset dari kebutuhan audiens.

Di sinilah keahlian manusia menjadi pembeda.

Manusia dibutuhkan untuk memahami konteks bisnis, mengenali kebutuhan yang tidak selalu dinyatakan secara eksplisit oleh pengguna, menilai kelayakan suatu klaim, dan menentukan informasi mana yang benar-benar penting.

Dalam SEO, kemampuan tersebut juga mencakup pemahaman terhadap search intent, strategi konten, positioning merek, serta hubungan antara kebutuhan audiens dan tujuan bisnis.

Saya tidak melihat perkembangan AI sebagai alasan untuk mengurangi pentingnya keahlian manusia. Justru sebaliknya, ketika proses produksi semakin mudah diotomatisasi, kemampuan untuk mengambil keputusan yang tepat menjadi semakin bernilai.

Jadi, Apa yang Sebenarnya Perlu Diinvestasikan oleh Brand ketika ingin tetap dipercaya dan bisa muncul di AI Overview?

Akhirnya kita sampai pada pada kesimpulan dari keseluruhan diskusi : apa saja yang perlu dibangun agar visibilitas digital tidak hanya bergantung pada produksi konten?

Dalam pembahasan mengenai investasi merek, beberapa hal yang disoroti meliputi pemahaman terhadap profil pelanggan ideal, identitas merek, teknologi, implementasi sistem yang tepat, bukti sosial, dan link building.

Menurut saya, semua hal tersebut perlu dilihat sebagai bagian dari strategi yang saling berkaitan.

Brand perlu memahami siapa pelanggan idealnya, apa yang mereka butuhkan, dan alasan mengapa mereka harus memilih bisnis tersebut. Pemahaman ini kemudian menjadi dasar untuk membangun positioning, menyusun konten, menentukan kanal distribusi, dan mengembangkan pengalaman pelanggan.

Di sisi lain, reputasi juga tidak dapat dibangun hanya melalui artikel di website. Kehadiran merek di berbagai platform, hubungan dengan pihak lain yang relevan, bukti pengalaman pelanggan, serta konsistensi komunikasi dapat membantu memperkuat persepsi terhadap sebuah bisnis.

Link building pun sebaiknya tidak dipandang semata-mata sebagai aktivitas mengejar jumlah backlink. Strateginya perlu diarahkan pada upaya membangun hubungan dan memperoleh tautan yang relevan serta bernilai bagi website.

Hal yang tidak kalah penting adalah memastikan bahwa investasi teknologi diikuti oleh proses kerja dan orang yang tepat. Tools yang canggih tidak akan memberikan hasil maksimal apabila tim tidak memahami cara menggunakannya atau tidak memiliki standar untuk mengevaluasi hasilnya.

Bagi saya, inti dari semua ini adalah bahwa brand membutuhkan fondasi yang kuat, bukan hanya mesin produksi konten yang cepat.

AI dapat membantu mempercepat eksekusi. Namun, arah strategi tetap perlu dibangun dari pemahaman audiens, diferensiasi merek, keahlian, reputasi, dan kualitas pengalaman yang diberikan kepada pelanggan.

Lebih dari Sekadar Membahas AI, Diskusi RHD Mengingatkan Kita untuk Terus Belajar

Salah satu hal yang saya apresiasi dari diskusi seperti ini adalah kesempatan untuk melihat persoalan digital marketing dari berbagai sudut pandang.

Setiap praktisi memiliki pengalaman, tantangan, dan pendekatan yang berbeda. Ada yang berhadapan dengan kebutuhan produksi konten dalam skala besar, ada yang fokus pada industri dengan tuntutan akurasi tinggi, dan ada pula yang mengembangkan workflow AI untuk mendukung pekerjaan tim.

Ketika perspektif tersebut dipertemukan, diskusi menjadi lebih dari sekadar pertukaran informasi mengenai tools atau tren terbaru. Kita mendapatkan kesempatan untuk menguji asumsi, memahami risiko, dan menemukan pendekatan yang mungkin belum pernah kita pertimbangkan sebelumnya.

Bagi saya, itulah salah satu nilai penting dari forum diskusi praktisi seperti RHD.

Perkembangan digital marketing berlangsung sangat cepat. Perubahan teknologi, perilaku pengguna, dan pengalaman penelusuran membuat strategi yang relevan hari ini perlu terus dievaluasi.

Kita tidak bisa hanya mengandalkan pengetahuan yang diperoleh beberapa tahun lalu, apalagi jika keputusan yang diambil berpengaruh langsung terhadap strategi pemasaran dan pertumbuhan bisnis.

Kita perlu terus belajar, berdiskusi, dan membandingkan pengalaman dengan praktisi lain.

Kesimpulan

Jika ada satu hal yang saya bawa pulang dari diskusi RHD kali ini, jawabannya adalah: ketika AI membuat produksi konten semakin mudah, kualitas, keahlian, dan identitas merek justru menjadi semakin penting.

Brand tidak harus menolak AI untuk mempertahankan daya saingnya. Sebaliknya, AI dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi, mempercepat pekerjaan, dan membantu tim mengembangkan ide.

Namun, pemanfaatannya perlu disertai riset yang kuat, content brief yang jelas, pedoman editorial yang tepat, dan pengawasan manusia yang memadai.

Pada saat yang sama, strategi SEO perlu bergerak melampaui sekadar mengejar peringkat. Brand harus membangun alasan agar audiens mempercayainya, mengingatnya, dan memilihnya ketika muncul di halaman hasil pencarian.

Tentu saja, masih banyak pertanyaan yang layak dibahas lebih dalam. Bagaimana perkembangan AI Search akan memengaruhi strategi konten ke depan? Bagaimana mengukur kontribusi konten terhadap pertumbuhan merek? Dan bagaimana praktisi dapat mengintegrasikan AI tanpa kehilangan kualitas serta perspektif yang membedakan satu brand dari brand lainnya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi alasan mengapa diskusi ant praktisi tetap relevan, bahkan ketika teknologi semakin canggih.

Jadi, jangan sampai ketinggalan diskusi RHD berikutnya!

Jika Anda seorang praktisi SEO, digital marketer, pemilik bisnis, content strategist, atau siapa pun yang ingin memahami perkembangan terbaru dalam dunia digital marketing, bergabunglah dalam diskusi RHD selanjutnya. Klik link dibawah ini untuk join komunitas Ruang Henti Digital.