Kadet, in this economy, Sertu paham bahwa menjaga pendapatan kamu tetap stabil merupakan sebuah keharusan agar tetap bisa bertahan, terutama untuk mereka yang baru saja terkena musibah PHK.
Langkah bijak yang sering terlintas adalah terjun ke dunia freelance, karena fleksibel, dan bisa mendapatkan uang secara cepat karena sifatnya instant atau perproject.
Selain itu bekerja secara freelance memberikan kemudahan bisa kerja dari mana aja tanpa harus mengeluarkan biaya transportasi. Tapi ada satu masalah klasik yang bikin banyak pemula yang sering bertanya ke Sertu, terkait “Gimana sih cara menentukan harga freelancing?”, atau “Kalau kasih harga segini, kemahalan atau kemurahan gak, sih?”
Nah kalau kamu sedang berada di fase bingung itu, semoga dengan membaca artikel berikut ini, kamu bisa mendapatkan pencerahan.
Pentingnya Menentukan Tarif Freelance
Harga bukan cuma sekadar angka, walau kamu lagi butuh, bukan berarti harus banting harga dibawah rata-rata pasaran, lho.
Ini semacam proses, harga bisa menjadi bagian branding, nilai dari diri ktia sebagai seseorang yang mengerjakan, dan batasan kerja. Ketika kamu kasih tarif terlalu murah, klien bakal nganggep kamu “murahan” dan bisa seenaknya diminta macam-macam, tapi kalau terlalu mahal tanpa alasan yang jelas, klien enggak bakal betah alias kabur.
Makanya, menentukan harga jasa freelance harus pakai logika, bukan cuma feeling.
Tahapan Menentukan Harga Jasa Freelance
Untuk mempermudah, kami sudah menyusun tahapan-tahapan yang bisa kamu gunakan. Tahapan ini kami susun berdasarkan diskusi dengan para Kadet di Ruang Henti Digital, mereka sudah yakin bahwa tahapan ini sesuai dengan kondisi saat ini.
1. Hitung Penghasilan yang Kamu Harapkan per bulan
Ini penting, walau kamu tidak berencana menjalankan ini secara serius, tapi menentukan target bisa menjadi langkah yang bijak ketika menentukan harga sebuah jasa, lho.
Kamu pasti punya harapan berapa besaran yang bisa diterima dari pekerjaan ini, katakan dalam kurun waktu satu bulan, nah dari sini kamu hitung kebutuhan seperti biaya hidup dan biaya kerjanya.
Contoh sederhana:
- Biaya hidup bulanan: Rp 5.000.000
- Biaya kerja (internet, listrik, software untuk bantu): Rp 1.500.000
- Target tabungan: Rp 1.000.000
Dari hitungan diatas, kita mendapati total kebutuhan per bulannya adalah: Rp 7.500.000
2. Tentukan Tarif Dasar Per Jam / Per Proyek
Setelah tahu kebutuhan, selanjutnya tentukan tarif dasar per jam atau per proyek. Misalnya Kadet ingin kerja maksimal 100 jam per bulan, berarti minimal tarif per jam untuk freelance ini adalah:
7.500.000 ÷ 100 = Rp 75.000/jam
Kalau kamu lebih suka tarif per proyek, tinggal kalikan waktu kerja. Misalnya desain Instagram butuh 5 jam, maka tarif minimalnya: Rp 375.000 per proyek.
3. Riset Harga Pasar
Jangan cuma berhenti disana, untuk memastikan bahwa rate tersebut layak atau tidak, kamu bisa cari tahu tarif freelancer lain dengan niche, pengalaman, dan kualitas yang mirip-mirip dengan kamu. Caranya kamu bisa:
- Cek marketplace freelance (Sribu, Upwork, Fiverr)
- Tanya komunitas, kalo kamu kamu, join ke WA Channel Ruang Henti Digital, disini banyak banget freelance dan praktisi khusus Digital Marketing yang bisa bantu kasih insight. Cek info soal Komunitas Digital Marketing
- Perhatikan rate card dari teman-teman seprofesi
4. Sesuaikan Harganya
Agar lebih membantu kamu, nih Sertu kasih bonus bagaimana menentukan harga agar tidak saling menjatuhkan para freelancer.
Kadet bisa sesuaikan harga mengikuti pengalaman & spesialisasi mu
Yang kami sarankan seperti ini :
- Pemula (0–1 tahun): tarif 20–40% di bawah harga pasar
- Menengah (1–3 tahun): harga sesuai pasar
- Senior (3+ tahun): 30–100% di atas pasar
Kalau kamu punya skill langka (Motion Graphics, UX Research, Technical Writer), harga bisa lebih tinggi lagi, lho.
Tips Tambahan untuk Freelancer Pemula
Sebagai penutup, Sertu ingin berbagi tips tambahan yang semoga bisa membantu Kadet agar tidak salah pasang harga, berikut tips-tipsnya.
1. Jangan banting harga
Inget, walau kamu tidak akan serius menjalankan freelance ini sebagai sumber pendapatanmu, tapi jangan sampe banting harga juga, kenapa? Berdasar pengamatan dan hasil diskusi bareng para Kadet, hal ini justru akan memancing klien-klien murahan tapi maunya banyak, serius, cuma bikin capek kalo udah ketemu client begitu, percaya deh.
2. Tetapkan minimum project value
Jangan asal ambil banyak project, dan jangan sampe projectnya cuma sedikit. Mending kamu tentukan minimum value yang kamu harapkan. Misal minimal Rp 300.000 per pekerjaan atau minimal Rp5.000.000 per bulan. Ini kamu bisa dapatkan dari tahapan penentuan harga kerja diatas.
Tujuannya apa, biar konsisten menjaga kualitas layanan kamu.
3. Gunakan kontrak kerja
Nah ini nih yang sering banyak yang terlupa. Pentingnya untuk bikin kontrak kerja, biar jelas batasan-batasan pekerjaannya, jadi saat client minta tambah ini itu, kamu bisa mereview bahwa itu tidak ada dalam kontrak kerja. Dan kamu bisa meminta sur charge atau biaya tambahan untuk pekerjaan tersebut.
Cara hitung sur charge nya bagaimana ? Kamu bisa tentukan dengan harga pekerjaan perjam tadi.
4. Naikkan tarif setiap 6 bulan atau satu tahun
Kalau kamu baca sampai tahapan ini, artinya kamu udah serius jadi freelancer. Begitu kamu sudah matang, kamu perlu mempertimbangkan menaikan harga secara konsisten, selain karena inflasi, kenaikan ini bertujuan untuk membuktikan kredibilitas, skill naik, jumlah client banyak, ya harga juga bisa dinaikan.
Nah demikian Kadet, semoga kamu terbantu melalui artikel ini, ya!

