Pernah mendengar istilah “Blue Ocean Strategy” atau “Red Ocean Strategy” kadet? Kalau belum, maka artikel ini akan memandu kamu mengenali perbedaan keduanya, disertai dengan contoh-contoh implementasi strategi di era digital.
Jika diperhatikan kedua strategi ini merupakan bentuk pendekatan dalam dunia bisnis yang sangat bisa menentukan arah pergerakan sebuah bisnis mulai dari rintisan hingga kedepanya.
Blue Ocean vs Red Ocean: Apa Bedanya ?
Sederhananya Blue Ocean digambarkan sebagai pasar baru yang belum ada kompetitornya, sedangkan Red Ocean menggambarkan pasar yang sudah ada, sehingga kompetisinya bisa sangat ketat. Contoh sederhana, sebelum adanya Grab, Maxim, dan Uber, Gojek merupakan produk layanan transportasi online pertama di Indonesia, sehingga bisa dikatakan saat itu Gojek berada di Blue Ocean.
Untuk lebih mempermudah, tabel dibawah ini menjelaskan secara singkat terkait Blue Ocean dan Red Ocean ditinjau dari berbagai aspek:
| Aspek pembanding | Blue Ocean | Red Ocean |
|---|---|---|
| Tujuan | Tidak ada pesaing, mudah menguasai/mendapatkan audience | Banyak pesaing, fokusnya menjadi lebih baik dari kompetitor sehingga lebih banyak mendapatkan audience |
| Fokusnya | Menciptakan pasar baru | Bersaing ditengah pasar yang sudah terbentuk |
| Tingkat Kompetisi | Hampir tidak ada (awalnya) | Persaingan ketat |
| Pendekatan Strategi | Value Preposition, Inovasi Produk | Efisiensi, Diferensiasi Produk |
Blue Ocean sebenarnya merupakan strategi yang mudah diadaptasikan di Indonesia, mengingat market demand yang terus tumbuh, menjadikan banyak peluang menciptakan Blue Ocean strategy.
Contoh Blue Ocean Strategy yang Tepat
Selain Gojek dengan layanan transportasi online berbasis aplikasi diatas, beberapa brand dibawah ini juga berhasil mengimplementasikan Blue Ocean strategy, contohnya :
1. Kedai Digital
Membuat trobosan untuk cetak merchandise custom dan bisa satuan, bisnis yang di inisiasi oleh xxx ini berhasil melejit pesat di tengah persaingan jasa cetak konvensional yang harus minimal order terlebih dahulu.
2. Bank Mandiri
Eits, siapa bilang BUMN tidak bisa mengimplementasikan blue ocean strategy? Faktanya Bank Mandiri lewat Livin Appnya berhasil mendobrak paradigma dan kebiasaan orang terkait transaksi yang serba digital. Lewat Appnya, mandiri berhasil melakukan transformasi finansial secara digital, lho.
3. Santo Suruh
Berawal dari kegabutan dan menerima pekerjaan apapun yang diminta oleh audience, Santo suruh kini sudah bermitra dengan banyak orang dan membantu memberantas angka pengangguran. Wah program kerjanya cukup realistis ya, enggak seperti yang ada di Senayan sana.
Ada karakteristik yang sama dari ke tiga contoh diatas, terkait bagaimana mereka bisa menciptakan Blue Ocean strategy, yaitu :
- Mengamati kebutuhan pasar yang belum terpenuhi. Kunci dari Blue Ocean Strategi adalah peka terhadap kebutuhan yang belum tersedia solusinya.
- Menemukan celah di antara kebiasaan konsumen. Di situ biasanya ada peluang.
Tawarkan solusi yang beda — bukan cuma lebih murah.
Uji coba ide kamu ke audiens kecil dulu sebelum scaling.
Kapan memilih Blue Ocean atau Red Ocean Strategy ?
Dunia bisnis tanpa persaingan itu kurang seru, dan tidak semua persaingan itu buruk. Nggak semua bisnis harus selalu jadi disruptor, dan nggak semua harus ikut arus pasar yang sudah ramai. Di sinilah pentingnya memahami kapan harus bertarung di lautan merah, dan kapan saatnya berlayar ke lautan biru yang belum dijelajahi.
Pilih Red Ocean Kalau:
- Kamu main di pasar yang udah jelas, dengan demand yang terbukti ada.
- Kamu punya keunggulan kompetitif yang solid (harga, lokasi, branding, distribusi).
- Tujuannya adalah efisiensi dan eksekusi yang kuat.
Pilih Blue Ocean Kalau:
- Kamu punya value unik yang bisa ngubah cara orang berperilaku atau konsumsi.
- Kamu nemuin pain point yang belum ada solusinya di pasar saat ini.
- Kamu berani ambil risiko, trial & error, dan berpikir out of the box.

