Hashtag Are Dead

Apakah Hashtag di Instagram Benar-Benar “Mati”?

  • Updated
  • Posted in Editorial
  • 3 mins read

Sejak Adam Mosseri (CEO Instagram) meberikan statement pada konten instagramnya baru-baru ini, seolah ia memberikan pesan bahwa “hashtag sudah mati”. Hal ini kemudian menyebar cepat menjadi bola liar di kalangan marketer, kreator, dan pengguna instagram. Memunculkan judul-judul provokatif yang menyebutkan bahwa “Hashtag is Dead”, “Hastag is officialy dead”, dan semacamnya.

Namun fakta di lapangan — dan kata-kata Mosseri sendiri — jauh lebih rumit daripada headline yang memancing klik.

Apa yang Sebenarnya Dikatakan Mosseri?

Walau disebutkan “mati”, secara implisit Mosseri tidak pernah menyatakan bahwa Instagram akan menghapus fitur hashtag. Ia lebih menegaskan fungsi hashtag yang berubah: bukan lagi “jalan pintas” untuk menjangkau/reach audience, melainkan lebih berfungsi sebagai sinyal topikal atau kata kunci yang membantu sistem memahami konten.

Pernyataan itu menekankan bahwa faktor-faktor seperti engagement, relevansi, perilaku pengguna, dan sinyal AI-driven rekomendasi jauh lebih menentukan distribusi konten dibandingkan penambahan daftar tag di caption.

Hipotesa: Menjejali caption dengan instagram yang paling banyak digunakan orang-orang, tidak menjamin konten kita akan dilihat atau masuk explore.

Studi Literasi dari Para Pengamat

Lalu, apakah Hashtag masih relevant? Untuk menjawabnya, kami melakukan riset ke berbagai agensi social media dan sedikit melakukan riset independen dengan akun-akun client kami, mengamati perubahan pola distribusi konten Instagram dalam beberapa tahun terakhir.

Laporan-laporan industri (Sprout Social, Later, Buffer, dan lainnya) menunjukkan tren jelas: interaksi pada format tertentu (misalnya Reels) dan sinyal kualitas (tonton penuh, komentar bermakna, tindakan langsung) lebih berkaitan dengan reach dibanding jumlah hashtag.

Mereka juga menekankan bahwa platform semakin memanfaatkan AI untuk rekomendasi, sehingga kata kunci semantik dan konteks menjadi lebih penting daripada tag berulang-ulang.

Namun ada juga studi akademik dan analisis kuantitatif yang menunjukkan hubungan kompleks antara penggunaan hashtag dan reach — tergantung pada ukuran akun, niche, dan kualitas hashtag yang dipakai. Penelitian pada tingkat nano-influencer misalnya menemukan korelasi antara jenis hashtag yang spesifik dan peningkatan reach dalam segmen kecil, meski efeknya tidak linear terhadap jumlah tag. Artinya: hashtag yang relevan dan spesifik masih dapat berfungsi dalam konteks komunitas atau topik tertentu.

Kendali Platform vs. Kebutuhan Pengguna

Di sinilah kritik paling tajam patut diarahkan. Platform besar seperti Instagram selama ini membentuk perilaku pengguna lewat fitur dan sinyal algoritmik — mereka “mengajarkan” kreator bahwa menumpuk hashtag atau meniru trik tertentu akan membuahkan jangkauan. Ketika platform mengubah bobot sinyal tanpa memberi jalan transisi yang jelas atau alat pengganti praktis, konsekuensinya paling terasa oleh pihak yang paling rentan: UMKM kecil, kreator baru, dan aktivis yang mengandalkan penemuan organik untuk terhubung dengan audiens.

Rekomendasi Strategis untuk Bisa Beradaptasi

1. Prioritaskan kualitas konten dan engagement signal

Fokus pada konten yang mendorong watch time (untuk Reels), komentar yang relate, save, dan share — karena ini yang dihargai oleh algoritma Instagram. Lakukan A/B testing untuk judul, durasi, dan hook awal.

2. Gunakan hashtag sebagai Keyword

Pilih 3–7 hashtag relevan dengan isi konten: campuran niche spesifik (long-tail) dan branded/community tags bisa menjadi alternatif untuk membuatnya unik. Hashtag yang relevan membantu pencarian topikal, bukan “echo” otomatis untuk reach. Yang terpenting adalah hindari spam tag.

3. Manfaatkan metadata seperti: caption, alt text, dan transkrip

Dengan AI yang semakin canggih, platform memahami konteks lewat teks. Caption yang informatif, deskripsi gambar (alt text), dan transkrip video membantu sistem mengklasifikasikan dan merekomendasikan konten.

4. Bangun komunitas, bukan sekadar Follower

Komunitas yang aktif (komentar, DM, kolaborasi dengan akun lain) menciptakan sinyal otentik yang lebih bernilai daripada pengikut pasif. Program micro-ambassador atau kolaborasi lokal bisa efektif untuk UMKM.