Apa sih yang dikerjakan oleh Seorang Content Strategies?

  • Updated
  • Posted in Editorial
  • 8 mins read

Ribuan hingga jutaan traffic dari website bukan hanya sekedar angka data biasa, dibalik itu semua ada strategi konten yang dibangun dalam waktu yang tidak singkat.

Yaps, kalau teman-teman familiar dengan profesi SEO Specialist.
Content Strategy termasuk kategori spesifik atau bagian didalamnya.

Kalau kita mendalami, jobdesk ini sangat berkaitan dengan pekerjaan Content Writer.

Scope Content Strategy sangat penting dalam pengembangan campaign SEO sebuah website, terlebih kalau bisnis memiliki 2 website yang berjalan di niche yang sama.

Inilah yang Saya rasakan saat bekerja di perusahaan pupuk organik GDM, memiliki 1 website lama yang sudah dibangun sejak 2017 (waktu saya belum masuk) dan 1 website baru yang waktu itu launching pertengahan tahun 2019.

Karolina Eka - Content Strategies

Hi, Saya Karolina Eka Yulianti - Content Strategies

Saya memiliki minat yang kuat dalam digital marketing, khususnya Search Engine Optimization (SEO). Saya pernah bekerja sebagai seorang Content Strategys sekaligus SEO Specialist di Pupuk organik GDM. Yuk saling berkoneksi untuk berbagi insight, follow social media Saya berikut ini:

Saya menjadi bagian dari tim digital marketingnya tahun 2018, kemudian ada target SEO website baru dan lama harus beriringan berjalan bersamaan. Disitulah inovasi dan strategi diuji.

Lalu apa yang saya lakukan?

Berikut poin-poin strategi yang bisa digunakan acuan ketika menjalankan Content Strategy sesuai EEAT Google dan pengalaman pribadi.

Tetapkan Goals

Hal pertama yang perlu kita clearkan di awal sebelum berjalan strategi kontennya adalah duduk bersama stakeholder (waktu itu bersama Head Digital Marketing).

Flashback pengalaman waktu itu, saya melakukan riset terhadap persona market yang ada pada database Telemarketing. Selain itu melakukan pendalaman, jangan sampai dari salah satunya menjadi kanibal keyword.

Oh ya, website A yaitu gdmorganic.com sudah jalan SEO sejak tahun 2017 jadi sudah ada beberapa traffic yang masuk lumayan banyak dan bisa dijadikan acuan riset.

Gongnya ketika akhir 2020, Google core update rilis dan membuat web pertama terjun bebas hingga 50% kehilangan traffic.

Maklum sebelum tahun 2020, menggunakan strategi black hat yang membuat jumlah traffic anjlok dan berdampak ke leads sepi.

Akhirnya harus menetapkan goals yang tepat dimulai saat core update terjadi dan insyaf hijrah sesuai guidelines Google.

Fyi, Konten web A (gdmorganic.com) dan web B (gdm.id) sebelum core update memiliki arah konten yang hampir mirip, web A banyak membahas budidaya skala kecil sedangkan web B budidaya skala besar.

Kebetulan sampai tahun 2020 web B belum begitu perform maksimal tapi sudah menunjukkan traffic berangsur-angsur yang meningkat.

Strategi waktu itu yang saya ajukan adalah:

  • Web B fokus untuk awareness brand (konten informatif 80%) dan transaksional (konten artikel analisa usaha dan peluang bisnis 20%) targetnya pemula agribisnis dan seseorang yang ingin mencari opportunity agribisnis.
  • Sedangkan untuk web A yang harus bangkit berbenah dan berganti target market yaitu peternak atau petani yang sudah berpengalaman tapi punya kendala dalam agribisnis. Ide konten artikelnya beberapa juga berasal dari mitra GDM yang punya kendala dan selama ini ditampung oleh Telemarketing.

Sertakan Data dan Roadmap

Mengajukan ide dan strategi baru tanpa data yang jelas bagaikan taman tak berbunga, hehehe. Data ini menjadi acuan untuk present ke manajemen atau C-Level, sebab harus sesuai dengan goals bisnis.

Nah, data yang disertakan adalah video, gambar ataupun pernyataan chat konsumen menjadi peluang atau topik artikel yang nantinya dikembangkan.

Jika bisnis atau perusahaan punya grup konsumen di facebook atau database lainnya, kita bisa gunakan untuk pemetaan konten dan tujuannya untuk pengarahan ke produk yang kita jual yaitu memberikan solusi atas untuk mereka.

Untuk menampilkan ini, bisa gunakan dalam bentuk PPT lalu sisipkan diagram roadmap konten artikel misal contoh case saya:

  • Web A -> testimoni panen petani -> menjadi panduan budidaya mengarah ke > analisa bisnis > landing page produk
  • Web B -> pertanyaan petani di grup facebook -> menjadi artikel solusi kendala dan teknis perawatan yang benar > konsultasi Whatsapp

Serta compare dengan konten-konten website kompetitor sesuai niche bisnis kita dan potensi pencariannya (search volume).

Poin ini bisa menjadi strategi konten beda dan memiliki tujuan inline dengan bisnis yang dijalankan, agar growth bersama supaya atasan approved.

Kerjasama Antar Divisi

Di perusahaan yang memiliki divisi banyak tentu menjadi privilege untuk melakukan kerjasama agar poin 2 tercapai. Jadi jangan merasa jadi superman ya hehehe, sebab kalau kita mau mengembangkan dan berdiskusi dengan tim lainnya tentu campaign kita bisa mudah terwujud.

Nah mewujudkan strategi baru untuk 2 web, bisa dilakukan negosiasi dengan R&D agar nama mereka bisa tampil sebagai peninjau, tim Multimedia untuk produksi konten video serta testimoni yang ciamik, tim Markom untuk kerjasama media dan branding serta tim Marketing untuk share database dan feedback leads nantinya.

Gimana kalau ternyata kerjanya di agency? Sebenarnya sama saja cuma kita harus pinter-pinter ngajak klien atau PIC yang bertanggung jawab di project tersebut, untuk diskusi agar mereka mau terbuka soal data konsumen maupun testimoni.

Eksekusi

Ide dan strategi itu wajib dieksekusi dengan roadmap yang jelas, kalau poin 1 – 3 sudah kita jalankan maka untuk mengeksekusi diperlukan tim Content Writer yang handal.

Sebelum itu pastikan penetapan target produksi artikel setiap bulan dan brief yang dibuat sesuai standarnya.

Nah proses penulisan konten artikelnya ini setidaknya membutuhkan 2 – 3 penulis untuk 2 website.

Pemilihan Content Writer yang sesuai dengan kebutuhan brand memang agak susah-susah gampang, sesuai pengalaman pemilihan tim eksekusi ini ada beberapa poin:

Cari sesuai niche bisnis

Terbiasa riset mendalam dari jurnal (penting untuk case agribisnis atau YMYL)
Punya taste dan mampu memahami tone voice bisnis
Memahami audiens dan goals artikel yang dituju

Kalau bisa mencermati dan menerapkan 4 poin di atas dalam pemilihan Content Writer, tentu brief yang kita berikan bisa inline dengan hasil artikel nantinya. Jadi tidak banyak revisi, mempermudah editing dan bisa langsung gas publish serta set on page SEO.

Ukur Hasilnya

Strategi yang berhasil adalah yang terukur dan ada hasilnya.

Konten artikel yang sudah publish apakah sudah terindeks Google? Sudah mendatangkan traffic? Apakah menghasilkan leads? Lalu leads yang dihasilkan berkualitas (jadi konversi) atau sebaliknya.

Untuk mengukur hasil dari campaign artikel, kita bisa dilakukan dengan manual yaitu:

  • Cek di SERP Google > site:https://xxx.com/blog”judul artikel”
  • Google Search Console > performa
  • Google Analytics (GA4) > source traffic atau landing pages views
  • Database marketing > chat WA

Pengukuran ini tentu saling berkaitan dari poin 1 sampai 5, dengan begitu nantinya hasil analisa yang kita dapatkan objektif serta bisa menyesuaikan goals bisnis.

Job Description Content Strategy: Harian & Bulanan

Setelah memahami 5 poin utama di atas, mungkin ada yang bertanya, “Jadi, jobdesk harian atau bulanannya ngapain aja sih?”

Nah, dari strategi besar tersebut, kita bisa memecahnya menjadi tugas-tugas rutin yang lebih teknis dan terukur.

Ini rinciannya berdasarkan pengalaman saya:

Tugas Harian (Daily Tasks)

Aktivitas harian lebih berfokus pada eksekusi, monitoring, dan koordinasi dengan Head Digital Marketing (karna case saya rangkap ya jadi SEO sekaligus Content Strategy juga).

Pemantauan Performa

Mengecek secara singkat performa artikel yang baru maupun yang sudah diterbitkan. Bisa cek performanya di Google Search Console atau pakai tools lainnya.
Apakah sudah terindeks oleh Google? Adakah pergerakan positif pada kata kunci target di SERP?. Ini adalah bagian mikro dari poin “Ukur Hasilnya”.

Review Artikel

Meninjau draf artikel dari tim Content Writer. Memastikan brief dieksekusi dengan baik, tone of voice brand terjaga, dan memenuhi standar SEO on-page sebelum siap untuk di-publish. Ini adalah bagian dari poin “Eksekusi”.

Koordinasi

Berkomunikasi dengan tim lain. Misalnya, meminta data testimoni dan leads terbaru dari tim marketing atau menanyakan progres video pendukung dari tim multimedia. Ini adalah implementasi harian dari “Kerjasama Antar Divisi”.

Riset Ide

Terkadang ide konten terbaik muncul dari tren terbaru, berita industri, atau pertanyaan konsumen yang masuk hari itu. Tugas harian seorang Content Strategy adalah menangkap ide-ide ini untuk dimasukkan ke dalam content backlog atau daftar ide.

Tugas Bulanan (Monthly Tasks)

Aktivitas bulanan bersifat lebih strategis, mencakup analisis mendalam, perencanaan ke depan, dan pelaporan kepada manajemen.

Analisa & Pelaporan (Reporting)

Ini adalah versi lengkap dari “Ukur Hasilnya”. Di akhir bulan, tugas utamanya adalah menarik semua data (traffic dari GA4, performa dari GSC, jumlah dan kualitas leads dari tim marketing) untuk dianalisa secara menyeluruh.

Hasilnya disusun menjadi sebuah laporan bulanan untuk dipresentasikan kepada stakeholder (Head Digital Marketing atau langsung ke Manajemen)

Perencanaan Konten (Content Planning)

Berdasarkan laporan performa bulan sebelumnya dan goals bisnis, tugas selanjutnya adalah menyusun content plan atau kalender editorial untuk bulan berikutnya. Ini mencakup riset keyword mendalam, menentukan pilar konten, dan mendistribusikan topik untuk setiap website. Ini adalah bagian dari strategi “Sertakan Data dan Roadmap”.

Strategic Meeting

Mengadakan rapat evaluasi dengan tim penulis, Head Digital Marketing dan Manajemen. Tujuannya adalah untuk mempresentasikan hasil bulan lalu dan menyamakan persepsi untuk strategi konten di bulan yang akan datang.

Audit Konten Lama

Meluangkan waktu untuk meninjau kembali artikel-artikel lama yang performanya menurun atau memiliki potensi untuk dioptimalkan (content refresh). Kita cari mana yang perlu diperbarui informasinya dan bisa cek di Search Console, lalu diperbaiki SEO-nya, atau bahkan digabungkan dengan artikel lain.

Analisa Kompetitor

Melakukan analisa mendalam terhadap strategi konten kompetitor selama sebulan terakhir. Apa yang mereka lakukan dengan baik? Di mana ada celah atau content gap yang bisa kita manfaatkan untuk bulan berikutnya?.

Dengan memecah lingkup kerja menjadi tugas harian dan bulanan, peran seorang Content Strategy menjadi lebih jelas dan terstruktur, menjembatani antara strategi besar dengan eksekusi di lapangan.

Sudah ada 6 hal yang bisa dilakukan untuk scope Content Strategy sesuai dengan pengalaman saya (yang rangkap jadi SEO juga hehehe).

Pentingnya adaptasi strategi konten kita dengan mengikuti pola audiens menjadi hal yang bisa kita sesuaikan walaupun sekarang ini pencarian berbasis AI Overview.

Dengan begitu konten artikel kita bisa menjadi solusi atau jawaban yang sesuai dengan target market kita.